خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 30 | IndeX | Lanjut 32
كتابُ الجنائِزِ
Catatan tentang Jenazah
بابٌ في الصلاةِ على الغائبِ وعلى القبرِ
Bab: Shalat atas jenazah yang ghaib dan di atas kubur
Hadist ke Seratus Lima Puluh Dua:
عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( نَعَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّجَاشِيَّ فِي اليَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، وَخَرَجَ بِهِمْ إلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ، وَكَبَّرَ أَرْبعًا )) .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Nabi ﷺ mengumumkan wafatnya Raja Najasyi pada hari beliau wafat. Lalu beliau keluar bersama para sahabat menuju tempat shalat (mushalla), kemudian beliau membariskan mereka, dan bertakbir empat kali.”
Hadist ke Seratus Lima Puluh Tiga:
وعنْ جابرِ بنِ عبدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، (( أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى النَّجَاشِيِّ، فَكُنْتُ في الصَّفِّ الثَّانِي، أَو الثَّالِثِ )) .
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Sesungguhnya Nabi ﷺ melaksanakan shalat (jenazah) atas Najasyi, dan aku berada di saf kedua atau ketiga.”
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:
Pertama: Disyariatkan shalat atas jenazah yang ghaib (tidak hadir di tempat).
Kedua: Takbir dalam salat jenazah jumlahnya empat kali.
Ketiga: Dianjurkan memperbanyak jumlah orang yang ikut shalat jenazah, karena mereka adalah para pemberi syafaat; dan minimal terdiri dari tiga saf.
Keempat: Boleh mengumumkan kematian seseorang jika ada maslahat, dan hal itu tidak termasuk na‘yu jahiliyyah (pengumuman ala jahiliyah) yang dilarang.
Hadist ke Seratus Lima Puluh Empat:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، (( أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى قَبْرٍ، بَعْدَمَا دُفِنَ، فَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا )) .
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
“Bahwa Rasulullah ﷺ pernah shalat di atas sebuah kubur setelah jenazah dikuburkan, dan beliau bertakbir atasnya empat kali.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Disyariatkan shalat atas kubur, dan tata caranya sama dengan shalat jenazah pada umumnya.
بابٌ في الكفَنِ
Bab: Tentang Kafan
Hadist ke Seratus Lima Puluh Lima:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا، (( أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفِّنَ في ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ يَمَانِيَّةٍ بِيضٍ، لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ )) .
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ dikafani dengan tiga helai kain putih dari Yaman, tanpa ada baju (gamis) dan tanpa serban.”
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:
Pertama: Sifat kafan Nabi ﷺ: beliau tidak diberi gamis maupun serban; dan cara ini adalah kondisi yang paling sempurna.
Kedua: Yang paling utama dalam kafan adalah kain berwarna putih.
Ketiga: Boleh menambah jumlah kafan melebihi yang wajib, meskipun si mayit memiliki utang atau ahli warisnya tidak rela.
بابٌ في صفةِ تَغْسِيلِ المَيِّتِ وتَشْيِيعِ الجنازةِ
Bab Tentang Tata Cara Memandikan Mayit dan Mengiringi Jenazah
Hadist ke Seratus Lima Puluh Enam:
عنْ أمِّ عَطِيَّةَ الأَنْصَارِيَّةِ قالَتْ: (( دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حِينَ تُوُفِّيَت ابْنَتُهُ زَيْنَبُ. فقالَ: (( اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا، أوْ خَمْسًا، أَو أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ -إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ- بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَاجْعَلْنَ في الآخِرَةِ كَافُورًا -أَو شَيْئًا مِنْ كافُورٍ- فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فٌآذِنَّنِي )) ، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ، فَأَعْطَانَا حَقْوَهُ، فقالَ: (( أَشْعِرْنَهَا بِهِ )) . يَعْنِي: إِزَارَهُ.
Dari Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyyah, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ masuk menemui kami ketika putrinya, Zainab, wafat. Beliau bersabda:
‘Mandikanlah dia tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu — jika kalian memandang (melihat) perlunya — dengan air dan daun bidara. Dan pada siraman terakhir campurkanlah kapur barus, atau sesuatu dari kapur barus. Jika kalian telah selesai, maka beritahukanlah kepadaku.’
Ketika kami selesai, kami pun memberitahukannya. Lalu beliau memberikan kain sarungnya seraya bersabda:
‘Pakaikanlah kain ini padanya sebagai kain dalam (yang menempel pada tubuhnya).’ Maksudnya: sarung beliau ﷺ.
وفي روايَةٍ: (( أَو سَبْعًا )) .
Dalam riwayat lain disebutkan: ‘atau tujuh kali.’
وقالَ: (( ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا، وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا )) .
Beliau juga bersabda: ‘Mulailah dengan sisi kanannya, dan bagian-bagian wudhunya.’
وَأَنَّ أُمَّ عطِيَّةَ قالَتْ: (( وَجَعَلْنَا رَأْسَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ )) .
Dan Ummu ‘Athiyyah berkata: ‘Kami menjadikan rambut kepalanya tiga kepangan.’
Kosakata:
Lafadz [سِدْرٍ ] "sidrin" : adalah pohon bidara (nabq), yang dipakai untuk memandikan mayit; yaitu daunnya setelah ditumbuk.
Lafadz [كَافُورًا] "kāfūran" : sejenis wewangian yang dapat menguatkan/mengeraskan tubuh.
Lafadz [آذَنْتَنِي] "ādzantani" : artinya “engkau telah memberitahuku.”
Lafadz [حَقْوَهُ] "ḥaqwahu" : tempat mengikat sarung; yang dimaksud adalah sarung itu sendiri.
Lafadz [أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ] "asy‘irnāhā iyyāhu": “as-syi‘ār” ialah pakaian yang langsung menempel pada tubuh; maksudnya: jadikanlah sarungku sebagai kain yang menempel pada tubuhnya.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib memandikan mayit seorang muslim.
Kedua: Perempuan tidak boleh dimandikan kecuali oleh sesama perempuan, dan sebaliknya laki-laki oleh sesama laki-laki, kecuali suami bersama istrinya.
Ketiga: Mayit dimandikan tiga kali, jika belum bersih maka ditambah, dan jumlah akhirnya dianjurkan witir (ganjil).
Keempat: Air untuk memandikan dicampur dengan daun bidara, dan pada siraman terakhir diberi wewangian.
Kelima: Disunnahkan memulai dengan membasuh anggota-anggota mulia (anggota wudhu).
Keenam: Rambut mayit perempuan dikepang menjadi tiga, lalu diletakkan di belakangnya.
Hadist ke Seratus Lima Puluh Tujuh:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: (( بَيْنَمَا رَجُلٌ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ، إِذْ وَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ، فَوَقَصَتْهُ -أَو قَالَ: فأَوْقَصَتْهُ- فَقالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( اغْسِلُوهُ بمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ في ثَوْبَيْنِ، وَلَا تُحَنِّطُوهُ، وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ؛ فإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا )) .
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhumā, ia berkata:
“Ketika seorang laki-laki sedang berdiri di Arafah, tiba-tiba ia terjatuh dari untanya, lalu lehernya patah (atau beliau berkata: unta itu mematahkannya). Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, dan kafanilah dengan dua helai kain. Jangan diberi wewangian, dan jangan ditutup kepalanya. Sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah.’”
وفي روايَةٍ: (( وَلَا تُخَمِّرُوا وَجْهَهُ وَلا رَأْسَهُ )) .
Dalam riwayat lain: “Jangan kalian tutupi wajahnya dan kepalanya.”
الوَقْصُ: كَسْرُ الْعُنُقِ.
Lafadz [الوَقْصُ] "al-waqṣu" : artinya patahnya leher.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib memandikan mayit; hukumnya fardu kifayah.
Kedua: Boleh mandi bagi orang yang sedang ihram.
Ketiga: Dianjurkan menjaga kebersihan mayit.
Keempat: Perubahan air karena bercampur dengan benda suci (seperti daun bidara) tidak mengeluarkan air dari statusnya sebagai alat penyuci.
Kelima: Wajib mengkafani mayit.
Keenam: Haram menutup kepala mayit laki-laki yang sedang ihram, dan bagi perempuan ihram haram menutup wajahnya.
Ketujuh: Haram memakai wewangian bagi orang yang sedang ihram, baik hidup maupun mati, laki-laki maupun perempuan.
Kedelapan: Orang ihram tidak terlarang menggunakan sesuatu yang bukan wewangian, seperti sabun atau sejenisnya.
Kesembilan: Keutamaan orang yang meninggal dalam keadaan ihram, dan bahwa orang yang telah memulai suatu amal saleh lalu meninggal sebelum menyempurnakannya, maka niatnya tetap dicatat.
Hadist ke Seratus Lima Puluh Delapan:
عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ عن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( أَسْرِعُوا بِالجَنَازَةِ، فإِنْ تَكُ صَالِحةً، فَخَيْرٌ تُقدِّمونَهَا إِلَيْهِ، وَإِن تَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ )) .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Segerakanlah (pengurusan) jenazah. Jika ia seorang yang saleh, maka itu merupakan kebaikan yang kalian segerakan untuknya. Dan jika bukan demikian, maka itu keburukan yang kalian lepaskan dari pundak-pundak kalian.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Disunnahkan menyegerakan pengurusan jenazah dan membawanya, selama kematiannya bukan mendadak; jika mendadak, maka disunnahkan berhati-hati dan pelan-pelan.
Kedua: Anjuran untuk menemani orang-orang baik dan menjauhi orang-orang buruk.
Kembali 30 | IndeX | Lanjut 32
Tidak ada komentar:
Posting Komentar