Senin, 29 September 2025

Umdatul Ahkam : 38 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 37 | IndeX | Lanjut 39

 

 

بابُ الصومِ في السفرِ

Bab: Berpuasa dalam Perjalanan

 

Hadist ke Seratus Delapan Puluh Tujuh:

وعنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( جَاءَ رَجُلٌ إلى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فقالَ: يا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأقْضِيهِ عَنْهَا؟ قالَ: (( لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ، أَكُنْتَ قَاضِيَهُ عَنْهَا؟ )) قالَ: نَعَمْ، قالَ: (( فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقضَى )) .

"Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas RA, dia berkata: 'Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata: 'Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal dan masih memiliki hutang puasa satu bulan, bolehkah aku melakukan puasa qadha untuknya?' Nabi SAW bertanya: 'Jika ibumu memiliki hutang kepada seseorang, apakah engkau akan membayarnya?' Laki-laki itu menjawab: 'Ya.' Nabi SAW bersabda: 'Maka hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.'"


وفي روايَةٍ: (( جَاءَت امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ، وَعَلَيْهَا صَوْمُ نذْرٍ، أَفأَصُومُ عَنْهَا؟ فقالَ: (( أَرَأَيْتِ لَو كانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ فَقَضَيْتِيهِ، أَكانَ يُؤَدِّي ذَلِكَ عَنْهَا )) ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: (( فَصُومِي عَنْ أُمِّكِ )) .

"Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: 'Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal dan masih memiliki hutang puasa nazar, bolehkah aku melakukan puasa untuknya?' Nabi SAW bertanya: 'Adakah kami melihat jika ibumu memiliki hutang kepada seseorang dan kamu membayarnya, apakah itu sudah cukup untuk ibumu?' Wanita itu menjawab: 'Ya.' Nabi SAW bersabda: 'Maka lakukanlah puasa untuk ibumu.'"


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Riwayat pertama secara umum menunjukkan bahwa puasa qadha dapat dilakukan untuk orang yang telah meninggal, baik itu puasa nazar maupun puasa wajib. Namun, riwayat kedua secara khusus menunjukkan bahwa puasa nazar dapat dilakukan untuk orang yang telah meninggal.

Kedua: Perumpamaan dalam hadits menunjukkan bahwa semua hutang dan kewajiban yang dimiliki oleh orang yang telah meninggal dapat dibayarkan atas namanya."



Hadist ke Seratus Delapan Puluh Delapan:

عنْ سَهْلِ بنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ )) .

"Diriwayatkan dari Sahli bin Sa'din As-Sa'idi RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Manusia akan selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.'"


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Anjuran menyegerakan berbuka puasa: Disunnahkan untuk menyegerakan berbuka puasa setelah matahari terbenam.

Kedua: Kebaikan dalam menyegerakan berbuka: Menyegerakan berbuka puasa lebih baik daripada menundanya, karena ini adalah sunnah Nabi dan dapat memuaskan jiwa.

Ketiga: Mu'jizat Nabi: Hadits ini juga menunjukkan mu'jizat Nabi SAW, karena orang-orang yang menunda berbuka puasa adalah mereka yang tidak baik, yaitu kelompok Rafidhah (salah satu kelompok Syiah).



Hadist ke Seratus Delapan Puluh Sembilan:

عنْ عمرَ بنِ الخطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هاهُنَا فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ )) .

"Diriwayatkan dari Umar bin Khattab RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Jika malam telah tiba dari sana dan siang telah pergi dari sana, maka orang yang berpuasa telah boleh berbuka.'"


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Disunnahkan untuk menyegerakan berbuka puasa ketika matahari terbenam dan malam tiba.

Kedua: Nabi SAW bersabda "maka orang yang berpuasa telah boleh berbuka" berarti waktu berbuka puasa telah masuk ketika matahari terbenam.

 

 

بابُ أفضلِ الصيامِ وغيرِهِ

Bab: Keutamaan berpuasa dan selainnya


Hadist ke Seratus Sembilan Puluh:

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ): (( نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْوِصَالِ. قَالُوا: إنَّكَ تُواصِلُ؟ قالَ: (( إِنِّي لَسْتُ مِثْلَكُمْ، إِنِّي أُطْعَمُ وَأُسْقَى )) .

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari (puasa) wisal (puasa terus-menerus tanpa berbuka). Mereka berkata: “Engkau juga melakukan [الْوِصَالِ] wisal?” Beliau bersabda: “Aku tidak sama seperti kalian, sesungguhnya aku diberi makan dan minum (oleh Allah).”


رواهُ أبو هُرَيْرَةَ، وعائشَةُ، وأنسُ بنُ مالِكٍ، رَضِيَ اللَّهُ عنهُمْ.

Hadist ini juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Aisyah, dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhum.


ولِمسلمٍ: عنْ أبِي سعيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ: (( فأَيُّكُمْ أَرَادَ أَنْ يُواصِلَ، فَلْيُوَاصِلْ إِلى السَّحَرِ )) .

Dalam riwayat Muslim, dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda: “Barang siapa di antara kalian ingin melakukan wisal, maka hendaklah ia melakukannya sampai waktu sahur.”


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Haram hukumnya melakukan wisal, kecuali bagi yang mampu hingga waktu sahur; namun meninggalkannya lebih utama.

Kedua: Syariat Islam penuh dengan kasih sayang dan keringanan bagi umat.

Ketiga: Larangan untuk berlebihan dan bersikap ekstrem dalam beragama.

Keempat: Kekhususan wisal hanya bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah memberi beliau makanan dan minuman, maksudnya: Allah menanamkan dalam hatinya kenikmatan bermunajat kepada-Nya yang mengalihkan beliau dari kebutuhan makan dan minum. 

 

 

Hadist ke Seratus Sembilan Puluh Satu:

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرِو بنِ العَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: (( أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي أَقُولُ: وَاللَّهِ لأَصُومَنَّ النَّهَارَ، وَلأَقُومَنَّ اللَّيْلَ مَا عِشْتُ )) فَقُلتُ لَهُ: قَدْ قُلْتُهُ، بِأَبِي أنْتَ وَأُمِّي، قالَ: (( فإِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ ذَلِكَ، فَصُمْ وَأَفْطِرْ، وقُمْ وَنَمْ، وَصُمْ مِن الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ؛ فَإِنَّ الحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ )) قلتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ، قالَ: (( فَصُمْ يَوْمًا وَأفْطِرْ يَوْمَيْن )) قلتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ، قالَ: (( فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا، فَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَهُوَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ )) فقلتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ. فقالَ: (( لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ )) .

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amri bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Telah diberitakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku berkata: “Demi Allah, aku benar-benar akan berpuasa di siang hari dan bangun (shalat) malam sepanjang hidupku.” Maka aku berkata kepada beliau: “Memang aku telah mengucapkannya, demi ayah dan ibuku (wahai Rasulullah).” Beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup melakukannya. Maka berpuasalah dan berbukalah, bangunlah malam dan tidurlah, serta berpuasalah tiga hari dalam setiap bulan. Karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh, maka itu sama dengan puasa sepanjang tahun.”

Aku berkata: “Sesungguhnya aku mampu lebih dari itu.” Beliau bersabda: “Maka berpuasalah sehari dan berbukalah dua hari.” Aku berkata: “Aku mampu lebih dari itu.” Beliau bersabda: “Maka berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Itu adalah puasa Nabi Dawud ‘alaihissalam, dan itu adalah puasa yang paling utama.” Aku berkata: “Aku mampu lebih dari itu.” Beliau bersabda: “Tidak ada puasa yang lebih utama daripada itu.”


وفي روايَةٍ: قالَ: (( لَا صَوْمَ فَوْقَ صَوْمِ دَاوُدَ- شَطْرِ الدَّهْرِ- صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا )) .

Dalam riwayat lain beliau bersabda: “Tidak ada puasa yang melebihi puasa Dawud—setengah dari waktu (setahun)—berpuasalah sehari dan berbukalah sehari.”

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Semangat Abdullah bin Amri dalam beribadah, serta pengetahuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kadar kemampuan manusia dalam beramal.

Kedua: Puasa yang paling utama adalah puasa sehari dan berbuka sehari (puasa Nabi Dawud ‘alaihissalam).

Ketiga: Makruh hukumnya berpuasa terus-menerus sepanjang tahun, sebagai bukti kelembutan dan kemudahan syariat Islam. 

 

Kembali 37 | IndeX | Lanjut 39 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar