TARIKH KHULAFA
Kembali 39 | IndeX | Lanjut 41
[زهده في المطعم والملبس]
[Zuhudnya dalam makanan dan pakaian]
#. Zuhud adalah menahan diri dari hawa nafsu, ke inginan berlebih atau bermewah-mewahan.
‘Ikrimah bin Khalid dan lainnya berkata:
“Hafshah, Abdullah, dan yang lainnya pernah berbicara kepada Umar, mereka berkata: ‘Seandainya engkau mau makan makanan yang baik, tentu akan lebih menguatkanmu dalam menegakkan kebenaran.’
Umar berkata: ‘Apakah kalian semua sepakat dengan pendapat ini?’
Mereka menjawab: ‘Ya.’
Umar berkata: ‘Aku tahu niat baik kalian; tetapi aku telah meninggalkan kedua sahabatku (Nabi ﷺ dan Abu Bakar) di atas jalan (kesederhanaan). Jika aku meninggalkan jalan mereka, niscaya aku tidak akan bisa menyusul mereka di tempat kediamannya (di akhirat).’
Dan pada tahun itu, manusia dilanda paceklik, maka Umar tidak makan minyak samin dan daging sama sekali.”
Dan Ibnu Abi Mulaykah berkata:
“Utbah bin Farqad berbicara kepada Umar tentang makanannya, maka Umar berkata: ‘Celaka engkau! Apakah aku akan menghabiskan kebaikanku di kehidupan dunia dan menikmatinya?’”
Dan Hasan berkata:
“Umar pernah masuk menemui putranya, ‘Ashim, ketika ia sedang makan daging. Umar berkata: ‘Apa ini?’
‘Ashim menjawab: ‘Kami ingin sekali memakannya.’
Umar berkata: ‘Apakah setiap kali engkau ingin sesuatu, engkau harus memakannya?! Cukuplah seseorang disebut berlebihan bila ia makan setiap apa yang ia inginkan.’”
Aslam berkata: Umar pernah berkata:
“Pernah terlintas di hatiku keinginan untuk makan ikan segar. Maka Yarfā’ segera menyiapkan untanya, lalu berjalan empat hari pergi dan pulang, kemudian membeli satu keranjang ikan, lalu membawanya. Setelah itu ia mencuci untanya, lalu mendatangi Umar. Umar berkata: ‘Ayo, mari aku lihat unta itu.’ Lalu Umar memeriksanya dan berkata: ‘Apakah engkau lupa mencuci keringat yang ada di bawah telinganya? Engkau telah menyiksa seekor hewan demi memenuhi syahwat Umar. Demi Allah, Umar tidak akan pernah merasakan sedikit pun dari keranjangmu itu!’”
Qatadah berkata:
“Umar, ketika menjadi khalifah, biasa mengenakan jubah wol yang ditambal dengan kulit. Ia berkeliling di pasar dengan membawa cambuk di pundaknya untuk mendisiplinkan orang-orang. Ia juga sering menemukan serpihan kayu atau biji kurma, lalu memungutnya dan meletakkannya di rumah orang-orang agar mereka dapat memanfaatkannya.”
Anas berkata:
“Aku melihat ada empat tambalan di antara kedua pundak Umar pada bajunya.”
Abu ‘Utsmān an-Nahdī berkata:
“Aku melihat pada diri Umar sebuah sarung yang ditambal dengan kulit.”
Abdullah bin ‘Āmir bin Rabi‘ah berkata:
“Aku pernah berhaji bersama Umar. Beliau tidak pernah mendirikan tenda besar atau kemah, melainkan hanya meletakkan kain atau alas kulit di atas pohon, lalu berteduh di bawahnya.”
[تهذيبه لنفسه]
[Upayanya dalam mendidik dirinya]
Abdullah bin ‘Īsā berkata:
“Pada wajah Umar bin Khattab terdapat dua garis hitam karena banyak menangis.”
Hasan berkata:
“Umar terkadang melewati satu ayat dalam bacaan wiridnya (bacaan rutinnya), lalu ia jatuh sakit karenanya sehingga beberapa hari tidak mampu melanjutkan bacaan darinya.”
Anas berkata:
“Aku pernah masuk ke sebuah kebun, lalu aku mendengar Umar berkata —sedangkan antara aku dan dia ada dinding—: ‘Umar bin Khattab, Amirul Mukminin?! Ah! Demi Allah, wahai Bani Khattab, sungguh engkau harus bertakwa kepada Allah, atau Allah benar-benar akan menyiksamu!’”
Abdullah bin ‘Āmir bin Rabi‘ah berkata:
“Aku melihat Umar mengambil sebatang jerami dari tanah, lalu ia berkata: ‘Seandainya aku hanyalah jerami ini; seandainya aku bukan apa-apa; seandainya ibuku tidak pernah melahirkanku!’”
Ubaidullah bin Umar bin Hafsh berkata:
“Umar bin Khattab pernah memikul sebuah kantong air di atas pundaknya. Lalu ada yang bertanya kepadanya tentang hal itu. Ia menjawab: ‘Sesungguhnya diriku telah merasa kagum pada dirinya, maka aku ingin merendahkannya.’”
Muhammad bin Sirin berkata:
“Seorang kerabat menantu Umar bin Khattab datang kepadanya dan meminta agar diberi bagian dari Baitul Mal. Umar pun membentaknya seraya berkata: ‘Apakah engkau ingin aku menghadap Allah sebagai seorang raja yang berkhianat?!’ Kemudian Umar memberinya sepuluh ribu dirham dari hartanya sendiri.”
An-Nakha‘i berkata:
“Umar tetap berdagang ketika ia menjadi khalifah.”
Anas berkata:
“Perut Umar berbunyi karena hanya makan minyak zaitun pada tahun Ramadah (tahun paceklik). Beliau telah mengharamkan atas dirinya untuk makan minyak samin. Maka beliau menepuk perutnya dengan jarinya seraya berkata: ‘Tidak ada yang kita miliki selain ini, hingga manusia hidup kembali (terlepas dari kelaparan).’”
Sufyan bin ‘Uyainah berkata:
“Umar bin Khattab berkata: ‘Orang yang paling aku cintai adalah yang menunjukkan aib-aibku kepadaku.’”
Aslam berkata:
“Aku melihat Umar bin Khattab memegang telinga kuda, lalu dengan tangan satunya ia memegang telinganya sendiri, kemudian ia meloncat naik ke punggung kuda itu.”
Ibnu Umar berkata:
“Aku tidak pernah melihat Umar marah, lalu ketika disebutkan nama Allah di hadapannya, atau ada yang menakut-nakutinya dengan peringatan, atau ada seseorang yang membacakan ayat Al-Qur’an kepadanya, melainkan ia akan berhenti dari apa yang hendak dilakukannya.”
Bilal berkata kepada Aslam:
“Bagaimana pendapat kalian tentang Umar?”
Aslam menjawab: “Orang terbaik di antara manusia, hanya saja bila ia marah, maka urusannya menjadi besar sekali.”
Bilal berkata: “Seandainya aku berada di sisinya saat ia marah, niscaya aku bacakan Al-Qur’an kepadanya hingga hilang marahnya.”
Al-Ahwash bin Hakim meriwayatkan dari ayahnya:
“Dibawakan kepada Umar daging yang dimasak dengan minyak samin, maka beliau enggan memakannya seraya berkata: ‘Masing-masing dari keduanya sudah merupakan lauk (penguat makanan).’”
Semua atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘ad.
Dan Ibnu Sa‘ad meriwayatkan dari Hasan, ia berkata:
Umar pernah berkata: “Mudah sekali bagiku untuk memperbaiki suatu kaum dengan cara mengganti pemimpin mereka dengan pemimpin yang lain.”
Kembali 39 | IndeX | Lanjut 41
Tidak ada komentar:
Posting Komentar